[YANG DULUAN BELUM TENTU YANG TERBAIK]

Sedikit cerita dari kisah rutinitasku setelah lulus kuliah yang bekerja di suatu perusahaan swasta yang terletak di Ibukota Jakarta…
Setiap hari, aku pulang-pergi
Bogor-Jakarta menggunakan Bus Transjabodetabek. Rute bus ini dari Stasiun Bogor
menuju Stasiun Juanda untuk keberangkatan, begitu pun sebaliknya untuk
kepulangan. Bus Transjabodetabek yang aku tumpangi ini selalu membagikan jadwal
keberangkatan dan kepulangan bus di WhatsApp
Group. Sebagai informasi, jadwal kepulangan bus memiliki jeda sekitar 20
menit antarbusnya. Sebagai contoh, jika bus berangkat pukul 17.00 WIB dari
Stasiun Juanda menuju Stasiun Bogor maka bus berikutnya akan berangkat pukul
17.20 WIB.
Hari ini, aku hendak pulang di
sore hari. Tapi, aku tahu bahwa bus yang jadwalnya sesuai dengan jam
kepulanganku ini agak lambat jalannya sehingga aku sudah bertekad akan naik bus
yang berikutnya saja dan membiarkan bus tersebut melewatiku begitu saja.
Mengapa aku tahu bahwa bus tersebut lambat? Setahun lebih rutin menggunakan bus
sebagai alat transportasi menjadikanku hafal dengan gaya mengemudi pramudi
masing-masing bus sehingga aku cukup bisa mengetahui mana bus yang cepat dan
mana yang agak lambat, hehe. Tapi,
terlepas dari cepat lambatnya kedua bus tersebut tentu samasama tetap memerhatikan
keselamatan penumpang, ya. Lalu, setelah aku bertekad untuk menggunakan bus berikutnya,
tiba-tiba bus yang agak lambat tersebut sampai di depan mataku. Lagi-lagi walau
sudah bertekad bulat, tetap saja tergiur untuk menaikinya karena bagaimanapun
bus tersebut sampai lebih dulu ke tempatku. Aku tidak cukup sabar untuk
menunggu bus berikutnya. Akhirnya, aku menaiki bus tersebut walau aku tahu bus
tersebut agak lambat jalannya dengan tetap husnudzon barangkali saat itu busnya
bisa lebih cepat. Karena sudah menerima pilihanku sendiri, sepanjang di bus aku
menikmati perjalanan seperti biasanya. Hingga sampai di pertengahan jalan tol, aku melihat
bus berikutnya itu menyusul bus yang sedang aku tumpangi, hikss rasanya cukup menyesakkan dada. Karena benar saja, bus yang
aku tumpangi ini tersusul oleh bus berikutnya, huhu. Akibatnya, muncullah perasaan seperti sedikit menyesali
pilihanku sendiri yang akhirnya menaiki bus itu. Padahal, jika aku lebih sabar
untuk menunggu bus berikutnya itu datang, mungkin aku bisa lebih cepat sampai
ke rumah dan tidak melihat drama bus tersusul. Huahaha, tapi yasudah. Apa pun yang sudah terjadi itu adalah
takdir, ‘kan? Dan takdir itu pasti yang terbaik. Jadi, cukup dijadikan
pelajaran saja untuk diriku sendiri.
Dari sepercik kisah yang
terdengar sepele ini, hikmah yang bisa diambil adalah:
Sabar dulu, belum tentu yang datang duluan itu yang terbaik.
Sabar lebih lama lagi, untuk dapat hasil yang lebih baik.
Memang hanya Allah yang Maha
Mengetahui yang terbaik, tapi setidaknya itu yang bisa kupetik dari drama
pulang hari ini.
[01 September 2022]
Comments
Post a Comment