[REDISCOVERING ISLAM]
Apa sih, rediscovering Islam itu? Ya, menemukan kembali Islam. Maksudnya? Gini gini... Terkadang, kita sebagai umat Islam, mengaku muslim, mengaku beriman, tetapi sebenarnya hal itu dilakukan karena mengikuti jejak nenek moyang. Dengan kata lain, menjadi Islam karena keturunan. Mau ga mau, ya, mengikuti agama yang diajarkan di mana kita dibesarkan. Kita melakukan ibadah, seperti salat, puasa, mengaji, dan ibadah lain semuanya bukan karena kemauan kita sendiri, tetapi karena kita dianjurkan untuk melakukan itu dari kecil hingga menjadi kebiasaan. Pun diberitahu bahwa ada ibadah yang wajib dilakukan sehingga melakukan ibadah hanya sekadar untuk menggugurkan kewajiban.
Bagiku, rediscovering Islam itu adalah sebuah kesadaran. Kesadaran bahwa kita menjadi Islam memang karena pilihan, bukan sekadar keturunan.
Sebagai muslim, jalan untuk menemukan kembali Islam pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku, hal itu akan lebih bermakna ketika kita sedang sendiri -jauh dari keramaian, hiruk-pikuk, dan kesibukan dunia-.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata: "Akan ada masa di mana kau tidak menemukan kebahagiaan kecuali mengasingkan diri dari keramaian."
Memang benar, ketika kita sendiri, mengasingkan diri dari keramaian, mengambil jeda dari kesibukan dunia, kita akan lebih mudah bertafakur dan bermuhasabah sehingga mudah merasakan getaran akan kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang mengantarkan pada ketenteraman hati dan jiwa yang pada ujungnya melahirkan kesadaran.
Pun kesadaran akan Islam tidak bisa lahir secara instan. Diperlukan proses yang panjang dan harus menghadapi berbagai ujian sampai mendapatkan hikmah dari setiap kejadian sehingga muncul kesadaran.
"Kesadaran bahwa kita beragama Islam bukan karena terlahir sebagai muslim, tetapi memang kita yang memilih agama Islam."
Kenapa banyak nonmuslim yang berbondong-bondong masuk Islam? Jika memang mereka bersungguh-sungguh menjadi mualaf, tentu mereka telah melalui proses yang panjang dari sekian banyaknya pencarian akan kebenaran hingga akhirnya memilih Islam sebagai muaranya.
Tak heran, jika kita melihat ada mualaf yang tiba-tiba menjadi penceramah. Kok, bisa? Karena pilihannya menjadi mualaf didasarkan pada kesadaran sehingga melahirkan banyak pengetahuan akan Islam dan merasakan nikmatnya beragama Islam.
Sesungguhnya kita sudah beruntung, terlahir sebagai muslim dan mendapatkan pendidikan agama Islam selama di sekolah. Namun, apakah itu semua sudah cukup?
Mari kita berkaca, apakah kita sudah mempelajari Islam secara mendalam? Apakah kita sudah memiliki pengetahuan yang luas akan Islam? Apakah kita sudah merasakan nikmatnya beragama Islam? Coba tanyakan pada diri sendiri, sambil direnungi.
"Aku melakukan ibadah bukan karena kewajiban, tetapi karena aku mencintai Islam."
"Cinta itu butuh pembuktian maka aku membuktikannya dengan mengikuti aturan-aturan dalam Islam, yaitu dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya."
Memang, cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, seiring banyaknya interaksi, dan seiring bertambahnya ilmu.
Pun dengan mencintai Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan agama-Nya. Namun, sudah setulus itukah kita mencintai?
Sungguh, itulah cinta yang sesungguhnya. Cinta sejati, yang hanya terjadi antara hamba dan Rabb-nya.
Semasa sekolah, guru mengaji dan guru agama selalu mengatakan: "Untuk apa sih kita ada di dunia? Untuk apa sih kita hidup di dunia?" Jawabannya cuma satu, yaitu: "Untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala."
Apa yang disampaikan oleh para guru memang sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Surah Adz-Dzariyat Ayat 56, yang berbunyi:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْ
artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
Akan tetapi, ketika kita menganut agama Islam karena keturunan, apakah kita benar-benar melakukan ibadah karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Melakukan ibadah tanpa paksaan? Melakukan ibadah bukan untuk menggugurkan kewajiban?
Ya, sudah seharusnya kita melakukan ibadah karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Lillahita'ala. Semua karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Sebagaimana tertuang dalam Surah Al-An'am Ayat 162:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِ
artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."."
Ketika kita menyadari bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan kita semata-mata hanyalah untuk beribadah kepada-Nya maka kita akan melakukannya dengan sepenuh jiwa dan merasakan kenikmatan dalam beribadah yang sesungguhnya. Ibadah akan menjadi terasa seperti keinginan dan kebutuhan.
Jika sudah merasakan nikmatnya beribadah, sungguh, salat 50 rakaat sehari pun akan terasa kurang, mengaji berjam-jam pun tidak akan bosan, dan mengikuti kajian pun akan terasa menyenangkan. Indah sekali, bukan?
Melakukan ibadah bukan lagi karena sebuah anjuran apalagi menggugurkan kewajiban, melainkan karena ingin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah Ayat 152:
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ
artinya: "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."
juga dalam Surah Al-Baqarah Ayat 186:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَ
artinya: "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
serta dalam Surah Ar-Ra'd Ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَ
artinya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram."
Apa pun yang dilakukan semua hanya karena dan untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Yang awalnya melakukan ibadah karena terpaksa, kemudian terbiasa, lalu bertanya-tanya. Sebagian ada yang mencari tahu, sebagian ada yang tak acuh.
Semakin mencari tahu, semakin jatuh cinta. Semakin cinta maka semakin membuktikan. Membuktikan dengan berusaha menjadi sebaik-baiknya hamba. Menyadari statusnya di dunia hanyalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Maha Suci Allah. Segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Maha Besar Allah.
Mari merefleksikan diri dan menemukan kembali Islam.
Islam itu indah, ya, benar-benar indah.
Sudahkah kamu merasakan rediscovering Islam? Kapan kamu merasakan rediscovering Islam?
[18 Ramadan 1445 Hijriah / 29 Maret 2024]
Comments
Post a Comment