[SEBELUM TERLAMBAT…]

 

"Laa ilaaha illallah." untuk pertama kalinya ia menutup aurat dan langsung masuk ke liang lahat.

Bermakna tersirat: Ia sudah tutup usia dan seluruh tubuhnya hanya diselimuti oleh kain kafan sebagai penutup auratnya, penutup pertama sekaligus terakhirnya dengan diiringi seruan tahlil dari warga di sekelilingnya sampai ia masuk ke liang lahat.

Naudzubillahimindzalik.

Alkisah… Aku pernah mengikuti sebuah kajian, disampaikan bahwa sebagai wanita hendaklah untuk menutup auratnya dengan jilbab. Ya, memang jelas pernyataan itu ada dalam kitab suci Al-Quran, perintah untuk menutup aurat menggunakan jilbab bagi perempuan. Kala itu, aku belum menggunakan jilbab dan masih nyaman memperlihatkan rambutku di hadapan yang bukan mahram. Aku belum memiliki keinginan untuk menutup rambut indahku yang bertahun-tahun kubiarkan terpandang oleh siapa pun. Namun siapa sangka, dengan cara yang tak kuduga ternyata hidayah itu datang padaku lebih cepat dari yang semestinya.

Singkat cerita, semenjak kelas 3 SMA hati kecilku sudah ada keinginan untuk menggunakan jilbab, tapi terlalu banyak alasan duniawi yang membuat aku menunda untuk merealisasikan niat itu. Namun, aku selalu memohon dalam hati kepada Allah untuk memudahkan jalanku dalam melaksanakan perintah-Nya yang satu ini. Aku tahu dan aku sadar, tapi hidayah memang belum sampai kepadaku. Lalu, aku masih ingat jelas kala itu, salah satu alasan aku memutuskan untuk memilih kampus yang pada akhirnya menjadi kampusku itu adalah karena lingkungannya yang islami, yang semoga saja bisa mengantarkanku pada jalan-Nya, khususnya dalam usahaku dalam menutup auratku. MasyaAllah, Allah mendatangkan hidayah itu kepadaku. Alhamdulillah, setelah melewati kuliah semester pertama, aku mantap untuk menggunakan jilbab. Dengan cara yang tidak disangka-sangka, Allah memudahkan segalanya. Memang benar, hidayah itu bukan hanya ditunggu, tetapi juga diusahakan. Karena sejatinya hidayah itu sudah ada, kitalah sebagai manusia yang semestinya berusaha untuk meraihnya.

Tentu, saat ini aku pun belum sempurna dalam menutup auratku. Tapi, aku percaya sebuah proses. Karena Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar, Allah melihat proses kita dan mendengar segala isi hati kita. Proses itu butuh waktu, tapi aku yakin jika kita selalu berusaha untuk lebih baik lagi dalam melakukan kebaikan, baik kewajiban maupun sekadar amalan, Allah akan membimbing dan memudahkan jalan kita hingga mencapai kesempurnaan.

Teruntuk aku dan dirimu yang masih belum sempurna dalam menutup aurat kita, semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk segera menyempurnakan kewajiban ini sebelum ajal menjemput. Dan teruntuk kamu yang sudah sempurna dalam menutup auratmu, masyaAllah, semoga Allah memudahkan jalanmu untuk menyempurnakan ibadah-ibadah yang lainnya. Aamiin.


[06 Maret 2022]

Comments

Popular posts from this blog

[IDUL ADHA...(2)]

[DARIKU: UNTUKKU & UNTUKMU]

[REDISCOVERING ISLAM]