[FINAL CHAPTER OF MY CAMPUS LIFE]
Dalam satu semester ini aku belajar.
Bukan belajar di bangku kuliah bersama dosen, melainkan belajar dalam menghadapi dosen.
Ya, benar. Saat semester enam lalu aku mendapatkan dosen pembimbing skripsi yang sudah terkenal dengan keterlambatannya, baik saat mengajar maupun saat membimbing skripsi. Tapi, aku percaya bahwa itu adalah yang terbaik, pilihanku atas rida-Nya.
Setelah memasuki semester delapan, di bulan kedua aku baru memulai penelitian. Ya, itulah awal mulanya di saat teman-teman yang lain sudah berprogres lebih jauh dariku. Seiring berjalannya waktu, tibalah pencapaian pertama dalam semester delapan, yaitu seminar hasil penelitian, tepatnya di bulan Mei. Cukup terbilang cepat karena masih beriringan dengan teman-teman yang lain. Setelah itu, barulah pelajaran yang sebenarnya dimulai.
Seminar
Hasil: Rabu, 20 Mei 2020
Sidang Skripsi: Rabu, 19 Agustus 2020
Rentang
waktu yang lama, bukan?
Ya, tiga bulan. Tiga bulanku hanya diisi dengan tiga kali bimbingan, lebih tepatnya aku bimbingan sebulan sekali dalam rentang waktu itu.
Bimbingan pertamaku menuju sidang, yaitu di akhir bulan Juni. Setelah itu, hari-hariku penuh dengan penundaan. Penundaan akan bimbingan. Dengan kata lain, sudah janjian, namun berkali-kali diurungkan. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan bahwa sebentar lagi memasuki pembayaran UKT semester sembilan dan memohon bantuannya untuk menyelesaikan skripsiku sebelum waktu pembayaran tersebut.
Kemudian,
akhir bulan Juli, tepatnya H-1 lebaran haji beliau meluangkan malamnya untuk
merespon skripsiku. Lalu, beliau bilang bahwa aku sudah layak sidang dan
langsung disuruh daftar keesokan harinya agar bisa lulus sebelum memasuki
pembayaran UKT. Hm, apa perasaanku? Bingung. Di satu sisi aku senang karena
akan segera sidang, namun aku terlupa akan satu hal di sisi yang lain. Yaitu,
turnitin. Turnitin skripsiku masih kelebihan empat persen dari yang seharusnya.
Padahal, sebenarnya tidak apa-apa jika aku lanjutkan. Tapi, aku merasa itu
menjadi hambatan. Hingga akhirnya aku tidak jadi mendaftar. Mungkin, ini cara
Allah untuk mengarahkanku pada pilihan-Nya.
Setelah itu,
hari-hariku kembali penuh dengan penundaan. Hampir tiap hari aku menghubungi
beliau untuk bimbingan. Namun, selalu dijadwalkan ulang. Entah sesibuk apa.
Atau, entah memang cara Allah supaya aku mendapatkan yang terbaik. Sepuluh hari
kemudian, kabar baik itu datang. Beliau menyuruhku untuk mempresentasikan hasil
skripsiku secara daring. Kemudian, beliau mengomentari apa yang kurang dan apa
yang harus diperbaiki sekaligus beliau menyuruhku untuk daftar sidang besoknya.
Alhamdulillah, doaku terjawab. Penantianku akhirnya membuahkan hasil. Dengan
hanya dua kali bimbingan, ditambah satu kali bimbingan yang sekaligus
pra-sidang dalam waktu hampir tiga bulan. Padahal, jika dilihat dari banyaknya
bimbingan, seharusnya hanya tiga kali bimbingan tidak perlu waktu sampai hampir
tiga bulan, bukan? Tapi, lagi-lagi selalu ada hikmah di setiap takdir-Nya.
Mungkin, jika aku langsung diberikan jawaban lebih cepat dari itu, aku tidak akan merasakan sulitnya berjuang.
Mungkin, jika aku langsung diberikan jawaban lebih cepat dari itu, aku tidak akan merasakan sebuah kesabaran yang panjang.
Mungkin, jika aku langsung diberikan jawaban lebih cepat dari itu, aku tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang aku rasakan sekarang.
Dan mungkin-mungkin lainnya. Hanya Allah yang Maha Mengetahui.
Selanjutnya, aku tidak pernah meminta untuk diuji oleh siapa, tapi yang aku minta adalah yang terbaik. Hingga aku tahu siapa dosen yang akan mengujiku, deg seketika aku diam. Sedikit deg-degan, tapi aku yakin ini yang terbaik sehingga aku kembali tenang.
Jujur, selama masa menuju sidang, aku tidak merasa takut sedikitpun. Lillahita'ala. Allah mengangkat semua rasa risau, gelisah, gundah, galau, panik, dan deg-degan itu. Yang aku rasakan, Allah bersamaku. Aku bisa.
Tibalah waktunya sidang, dibuka dengan percakapan ringan para dosen penguji yang membahas soal rabuan hari itu dan foto dosen pembimbing skripsiku yang tidak memakai lipstik sehingga terlihat pucat, menarik bukan? Sedikit membuatku semakin menikmati masa sidangku. Hingga tiba waktunya aku presentasi yang kemudian dilanjutkan dengan pengujian skripsiku. Saat pengujian, aku sangat menikmatinya. Banyak kata-kata positif yang dilontarkan oleh para penguji yang memotivasiku dan membuatku semakin menyadari potensiku. Terlepas dari semua saran dan koreksinya. Aku senang. Kesanku terhadap akhir dari perjuangan di kampusku terasa sangat indah. Semua atas pertolongan-Nya. Dan satu hal, aku tidak menganggap ini terlambat, melainkan lulus di waktu yang tepat. Terima kasih yang sebesar-besarnya ya Allah.
Poin dari
cerita ini adalah:
1. Husnudzon.
Selalu berprasangka baik sama Allah karena Allah sesuai dengan prasangka
hamba-Nya. Ini salah satu kunci ketenangan hidup yang sudah berkali-kali aku
terapkan dalam kehidupan hingga Allah selalu menunjukkan kebesaran-Nya.
2. Setiap
perjuangan pasti membuahkan hasil. Sabarlah dalam menanti hasil itu.
3. Ketika
doa dan usaha sudah semaksimal mungkin namun belum juga mendapatkan jawaban,
bertawakal-lah. Serahkan semuanya ke Allah. InsyaAllah, Allah akan memberikan
yang terbaik.
4. Selalu
ingat, apa yang menjadi rezekimu, akan selalu menjadi milikmu. Begitu pula
sebaliknya.
5. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain karena jalan hidup setiap orang berbeda. Bandingkan diri yang sekarang dengan yang sebelumnya. Apresiasi diri sudah sampai di titik ini.
Di sini, aku berproses. Berproses dengan memaknai sebuah perjuangan dan kesabaran yang panjang. Ke depannya, akan banyak perjuangan dan kesabaran yang mungkin lebih panjang dan menguras energi. Setidaknya, aku sudah belajar sedikit dari ini. Terima kasih, diriku.
[22 Agustus 2020]

Comments
Post a Comment